Ibu Pembunuh Bayi Kembar Minta Keringanan Hukuman

Dafriana Wulansari alias Lani saat di persidangan PN Denpasar, Senin (28/1/2019).

Denpasar, PERSPECTIVESNEWS.COM-  Dafriana Wulansari alias Lani, ibu pembunuh bayi kembarnya minta keringanan hukuman kepada majelis hakim di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Denpasar yang digelar Senin (28/1/2019).

Lani, perempuan muda asal Manggarai Barat, Flores, NTT yang menjadi terdakwa kasus pembunuhan bayi kembar yang dikandungnya sendiri itu minta keringanan hukuman dengan menangis terisak-isak. Lani diberi kesempatan untuk menyampaikan pledoi (pembelaan) setelah dituntut 14 tahun penjara dan denda Rp 10 juta subsidaer 4 bulan penjara.

Duduk di kursi pesakitan, Lani membuka gulungan dua lembar kertas yang digenggamnya. Dengan raut wajah sedih dan mata berkaca-kaca, Lani tampak susah mengeluarkan suara saat memulai membacakan kalimat pertama pada kertas pembelaanya. 

“Saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Sehingga saya gelap mata. Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran saya saat itu, sehingga saya membuat perbuatan sekeji itu. Sungguh saya sangat menyesal,” kata Lani di depan majelis hakim diketuai Novita Riama.

Mahasiswi salah satu universitas swasta di Denpasar ini mengaku hingga saat ini dirinya sulit untuk memaafkan dirinya sendiri. “Selama proses penahanan saya belajar menerima kenyataan untuk memaafkan diri saya sendiri.” akunya. 

Pada bagian akhir pembelaannya, Lani memohon kepada majelis hakim agar dapat meringankan hukumnya. Dengan pertimbangan, dirinya menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan melawan hukum. Selain itu, Lani juga ingin melanjutkan kuliah yang tersendat karena perkara yang menimpanya ini.

“Saya mengetuk nurani majelis hakim untuk memberikan hukuman yang seringan-ringannya. Dengan pertimbangan usia saya masih muda,” harapnya.

Pada kesempatan yang sama, Gaspar Gambar selaku penasehat hukum yang mendampingi Lani dalam menghadapi persidangan ini, juga menyampaikan pledoi yang pada intinnya meminta keringanan hakim.

Seusia mendengar pledoi baik dari penasehat hukum dan terdakwa sendiri, Hakim Novita kemudian memberi kesempatan kepada JPU Ni Luh Putu Ari Suparmi untuk menanggapi. “Tetap pada tuntutan Yang Mulia,” tegas Jaksa dari Kejari Denpasar ini.

Sebelum mengakhiri sidang, Hakim Novita juga menerangkan jika pihaknya akan mempertimbangkan pembelaan pihak terdakwa. “Majelis akan berembuk dulu, putusan kami upayakan Senin, 7 Februari 2019,” ucap Hakim.  (git)